Book

Habis Baca Buku ‘Lean In’

DISCLAIMER: Buat yang baca tulisan ini lebih dari sekali, mungkin sadar kalau agaknya tulisan ini beda banget dari sebelumnya. Iyah nih saya edit. Soalnya setelah hari ini saya baca, I really dislike what I wrote. How did I write that?? Oh sungguh kecewa. First of all, terlalu panjang, I even dont wanna read it! Why would anyone else? Kedua, konten tulisannya. I don’t enjoy it at all, it’s like seeing yourself in a mirror with the ugliest dress. So I edited this piece, while maybe still including some nice points, I have excluded lotsa things. Sesuai kata orang bijak, you’re getting better each day… Or so I thought.

====================================================================

Sejak buku ini dirilis tahun 2013, saya engga beli kopinya sampai 2015, dan engga baca sampai 2016! Such a beautiful act of procrastination. Salah satu dorongan untuk kembali rajin baca buku (lyke I used to be gitu loh!) adalah target pertengahan tahun untuk menyelesaikan minimal 4 buku: dua buku biografi dan dua buku fiksi. Buku biografi semua sudah selesai saya baca (buku ini dan bukunya Mindy Kaling; review untuk yang terakhir menyusul!), tersisa buku fiksi sampai akhir tahun ini. Fingers crossed!

Sewaktu baca buku ini rasanya kepala saya pecyah banget. Selain karena saya sudah bekerja sehingga bisa relate, tapi juga apa yang Sheryl paparkan mengenai perempuan pada umumnya itu.. Ooooh pecyaaahhh~ Meminjam istilah bahasa inggris, buku ini ground breaking dan earth shattering banget. Terlihat juga Sheryl nulis buku ini bukannya asal nulis pakai rasa-rasa, tapi pakai hasil riset dan hasil interview dengan banyak orang. Ini bikin bukunya punya dasar yang kuat. Notes atau citation-nya aja udah beberapa halaman sendiri, padahal font-nya lebih kecil dibanding font di konten buku.

Anyway, saya tinggalin banyak banget post it di bukunya:

IMG_3767

Dan saya juga bikin catatan poin-poin menarik di bukunya (in case malas buka lagi bukunya ha ha ha): IMG_3766

Rajin yah, coba ini diterapkan ketika belajar ngoding (ups)

Buku ini sesuai dengan opini sebagian besar orang di media sosial: it’s encouraging perempuan agar lebih sukses, specifically di dunia kerja. Motivasinya supaya saat perempuan mulai mengisi posisi leadership, mereka diharapkan bisa memberikan lingkungan yang kondusif agar perempuan bisa seize the opportunity.

Banyak poin yang saya kira bagus, tapi yang paling jleb adalah ketika membahas Mommy Wars. Mommy Wars? Perseteruan klasik antara working moms dengan stay-at-home moms. She said a very good and clarifying point tentang ini.

Di film The Talented Mr. Ripley ada adegan dimana Matt Damon bilang ke Jack Davenport (sambil main piano) kalau manusia itu baik, at least menurut mereka sendiri. Atau saya musti bilang, manusia itu pasti benar setidaknya di mata mereka masing-masing. Yang bikin si A buruk dan si B baik adalah persepsi manusia lain. Absolute truth? Agak ambigu kalau manusia yang menentukan. Untungnya kita gak perlu pusing pikirin siapa yang bener, karena untuk umat beragama it’s obvious: Tuhan. Ih kok jadi religi posting ini. Anyway, Sheryl mentioned that the war is happening because people feeling uncomfortable with their own decisions. Mereka merasa bersalah karena gak memilih pilihan yang mereka gak jalani. Supaya menghindari feud yang gak penting she suggested to respect pilihan orang lain dan kita semua harus nyaman dengan pilihan yang kita jalani. I agree that’s very wise. Dia juga menekankan seharusnya sebagai sesama perempuan, kita harus saling mendukung dalam arah konstruktif. Either kita boleh saling memberi saran, atau mengutarakan kritik, tapi jangan sampai menyerang.

Kalau menurut saya pribadi, buku ini terbagi menjadi dua bagian: yang pertama tentang  stereotipe perempuan dan gimana perempuan musti menyikapi itu semua (baik di dunia kerja maupun masyarakat). Yang kedua adalah tentang pernikahan, mencari partner, dan hal-hal terkait. Bagian pertama saya semangat banget, karena most of what she said is true dan saya bisa relate. Sayangnya untuk yang kedua, karena masih ngawang, saya kurang tekun mendalaminya.. Tapi masih bagus kok. Cocok buat bekal mencari pasangan (ciyeee).

Soal mencari pasangan, saya setuju dengan Sheryl, yaitu ingin mencari pasangan yang suportif dan senang melihat kita sebagai wanita yang kuat, mandiri, dan berambisi. Saya gak jarang dapat opini dari orang seperti: Ih Saskya pinter banget, tapi awas jangan kepinteran nanti cowok pada takut lho. Hm? Apa iya ada lelaki yang pernah denger kayak gitu?

Tarjono, pinter banget sih! Tapi jangan kepinteran ah sampai S2, nanti cewek gak ada yang mau lho!

 

 

At these times, I wish I was born as a male. Tapi other times saya bersyukur banget dilahirkan sebagai perempuan. And to those who wondering, who the heck is Tarjono? Itu username saya di Pokemon Go, soalnya saya engga sengaja bikin karakter saya laki-laki. Ha ha ha ha.

Sedikit sharing pengalaman pribadi dulu, saya suka dibilang menghambat prestasi the significant other. Katanya saya suka ngelarang-larang. Tapi saat kami membicarakan mengenai hidup setelah menikah (kalau kami menikah, toh kenyataannya tidak), dia menyarankan saya untuk menjadi stay at home mom. Saya gak sekritis sekarang, jadi dulu sedikit pasrah dan dibutakan cinta. In the end, cinta itu semu kan yah. Makanya ada orang menikah ada yang cerai, kemudian menikah lagi dengan orang lain. Saya berdoa semoga pasangan saya nanti adalah seseorang yang menghargai kesetaraan. Bukan karena saya perempuan dan dia lelaki, peranan kami jadi terbatas. Hhh ya gitu deh pokoknya. Semoga untuk semua wanita jombs out there, kita segera dipertemukan dengan Mr.Right.

Kok jadi galau post ini.

Dua poin menarik dari buku Lean In sebelum saya menutup tulisan ini: Pertama, ketika perempuan dan pasangannya sepakat untuk membagi urusan rumah tangga, satu mind-set yang perlu ditanam adalah: Tidak harus semua hal itu harus sempurna, as long as it’s fine it’s good enough. Alias: Done is better than perfect. Kedua, ingatlah: What would you do if you weren’t afraid? Ini mengutip kata-kata Mark Zuck yang katanya dicetak besar-besar dengan font bold merah. Mungkin saya akan coba minimal dengan desktop background di laptop kantor.

Advertisements

Categories: Book

Tagged as: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s