Indonesia

Pengalaman urus paspor online

img_0063

Disclaimer: Tulisan ini mungkin dibaca oleh pirsawan dari masa depan. Selalu kroscek dengan pihak imigrasi untuk tahu proses yang berlaku.

Saya bulan kemarin perpanjang paspor secara online (daftarnya aja, tapi masih tetep harus datang ke kantor imigrasinya nanti) dan pingin berbagi informasi, siapa tahu berguna.

Saya selalu malas urus paspor di Jakarta karena ngantrinya malesin. Lokasi kantornya juga jauh dari rumah saya (di Warung Buncit), jadi selalu pakai jasa orang lain untuk ngurusin paspor. Sekarang ini sudah ada layanan daftar paspor online yang katanya antriannya beda dari yang walk-in ke kantor imigrasinya. Biasanya kalau walk-in, harus datang dari pagi banget (ada yang ngantri dari jam 4 dan konon kabarnya sampai ninggalin sepatu dan mapnya untuk ngetag). Kalau daftar online, kita gak perlu antri sepagi itu dan prosesnya jauh lebih cepat (konon kabarnya).

Saya mau pakai layanan ini, tapi dari tanggal 12/26, situs imigrasinya gak bisa diakses. Selalu aja server not found. Tanggal 12/27, lebih tepatnya di siang hari, saya bisa akses situsnya lewat ponsel, tapi karena lagi di luar dan saya gak bisa ngeklik pilihannya, saya rencana mau coba lagi di rumah.

Di rumah hal yang sama kejadian lagi. Saya gak bisa buka situsnya dan pesannya selalu sama, yaitu karena server timed out. Setelah beberapa kali ngotot mencoba, servernya bisa diakses lagi. Mulailah saya dengan proses pendaftaran paspor online. Langkah-langkah yang saya lakukan:

  1. Buka situs ini –> http://ipass.imigrasi.go.id:9090/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml (ini langsung ke layanan paspor online) atau bisa juga diakses dari situs imigrasi.go.id:
    1. Buka http://www.imigrasi.go.id
    2. Pilih tab Layanan Publik > Layanan Paspor Online
  2. Pilih menu Pra permohonan personal.
  3. Isi data diri
  4. Pilih kantor imigrasi buat datang nanti. Pilihannya itu cuma nama kantornya aja, gak sama alamatnya, jadi bisa banget salah pilih. Supaya gak salah, cek dulu nama kantor dan alamatnya di laman ini –> http://www.imigrasi.go.id/index.php/hubungi-kami/kantor-imigrasi. Pengalaman saya kemarin, ada dua mbak-mbak yang ke kantor imigrasi di Pondok Pinang, tapi ternyata salah alamat, mereka daftarnya di Warung Buncit. Kata satpamnya mau gak mau harus ke sana, gak bisa di Pondok Pinang. Jadi jangan sampai salah pilih ya.
  5. Saya lupa setelah ini apa, kayaknya sih pilih tanggal untuk wawancara.
  6. Terus (berhubung lupa) langsung untuk pembayaran, pilihannya cuma satu yaitu Simponi online (kalo ga salah). Di sini kita dapet ID billing yang dipakai untuk bayar.

Untuk pembayaran kita bisa lakukan di bank mana aja (BCA, Mandiri, CIMB Niaga, BNI, dkk). Bisa di ATM, teller, atau online banking. Untuk online banking gak semua bank bisa, tapi BCA dan Mandiri udah bisa setahu saya. Jadilah saya pakai online banking kakak saya. Detil cara bayarnya agak antimainstream karena kurang intuitif, saya sendiri harus cari informasinya dulu ke blog orang lain untuk tahu langkah-langkahnya.

Begini caranya untuk bayar di online banking:

  1. Login dulu
  2. Masuk Menu Bayar
  3. Pilih menu Penerimaan Negara
  4. Pilih Pajak/PNBP/Bea Cukai (gak ada clue bayar paspor online, mungkinkah PNBP tersebut?)
  5. Masukkan ID billing. Nanti data kita akan keluar di sini, seperti nama pemohon paspor dan berapa nominal yang musti kita bayar. Terus tinggal bayar deh.

Nanti akan keluar bukti bayar. Nanti bisa dicetak atau Save as PDF. Bukti bayar ini yang nanti kita bawa ke kantor imigrasi.

Saya bikin janjinya untuk tanggal 2 Januari. Sebenernya agak curiga juga sih kantornya tutup karena tanggal 1 Januarinya itu Minggu, jadi mungkin saja jadi libur bersama tanggal 2-nya. Tapi di sistemnya kan tanggalnya bisa diklik ya, jadi engga mungkin lah saya pikir. Eh ternyata bener dong, 2 Januari kantornya libur. Katanya satpamnya emang gak update ama sistemnya. Heuuh, kudu datang lagi besok. Untung deket sama rumah.

Besoknya saya datang jam 8 kurang. Pemohon walk-in udah banyak banget. Ada yang datang dari jam 6, dapat nomor antriannya 80-an. Karena saya online, saya harus ke satpamnya untuk minta nomor antrian yang online, tapi untuk menembus antrian manusia ini cukup mission impossible. Singkat cerita, saya dapat nomor 38 dan diminta menunggu di atas.

Pas sampai di lantai atas, petugasnya ada yang meminta cek kelengkapan dokumen. Semua diminta untuk menyediakan fotokopi dokumennya di kertas A4. Kalau ukurannya lebih kecil dari itu, diminta fotokopi ulang. Pas cek berkas saya, KTP saya musti dikopi ulang karena dipotong sesuai ukurannya. Heuh. Sebelnya yang perihal A4 itu, gak dibilang dimana pun di situsnya. Bahkan sebenernya gak dibilang disuruh bawa fotokopi, cuma dibilang bawa berkas asli. Yah gondok. Tapi ya udahlah. Untungnya di kantin kantornya ada tukang fotokopi, dan nyaris semua orang di lantai atas pada ke bawah buat fotokopi ulang. Mostly KTP. Ih benci deh aku.

Berkas semua sudah aman, sekarang duduk manis menunggu dipanggil. Dan kecepatan dipanggilnya lambat banget sis. Dari nomor antrian yang satu ke yang lain gak sinkron. Kadang bisa 5 menit sekali, 10, 15, bahkan 30 menit. Ternyata di dalam itu cuma ada satu tempat untuk diambil fotonya. Jadi ya kalo normalnya satu orang itu 10 menit, 38 orang itu kira-kira 380 menit, yang artinya 6 jam lebih dikit. WUT. Jadi giliran saya jam 2???

Untungnya realita tidak sekejam itu. Di awal-awal sempet cepet banget (dan di akhir so pasti mulai melambat), dan kira-kira jam 11an saya udah masuk ke dalam untuk diwawancara. Mungkin sial atau gimana ya, pas giliran saya servernya mati selama 30 menit. Haduh Gusti. Selama 30 menit itu, petugasnya pada keluar semua, kayaknya ada yang beli makan siang dulu. Pas 30 menit, petugas wawancaranya balik dan bilang servernya udah nyala. Beliau memproses semua pemohon yang tersisa supaya bisa selesai sebelum jam 12 siang. Saya salut sama Ibu petugas yang wawancara, sangat berdedikasi dan inisiatif untuk menyelesaikan. Nah yang petugas tukang fotonya lagi entah kemana dan si Ibu tersebut sudah nyaris selesai mewawancarai nyaris semua pemohon online.

Untungnya petugas fotonya datang enggak lama kemudian dan doski ambil foto saya dan kelar semua urusan di hari tersebut. Fiyuh. Pas sebelum jam 12 siang selesai. Total 4 jam. Saya bilang sama Bapak saya, kayaknya meski online lebih baik datang pagi-pagi juga ya, kayak jam 6 gitu. Kata Bapak saya sih sama aja 4 jam juga. Ada Bapak-bapak yang datang jam 6, beliau baru selesai jam 10. Duile saya pikir…

Ambil paspornya 3 hari kemudian, karena saya hari Selasa, paspor saya bisa diambil hari Jumat. Gak musti hari Jumat, agak lewat juga gapapa, asal jangan sampai sebulan aja. Pas mau ambilnya, prosesnya mirip. Ke satpam di lantai bawah buat ambil nomor antrian (setelah menunjukkan bukti bayar dan bukti permohonan), terus baru ke atas dan menunggu dipanggil oleh petugas. Gak lama untungnya (ya iyalah ya).

Begitulah pirsawan pengalaman saya mengurus perpanjangan paspor. Keluhannya cuma satu, yaitu waktu nunggu yang terlalu lama. Bottleneck-nya menurut saya ada di pengambilan foto dan sidik jari. Karena posnya hanya satu dan pengambilan sidik jari itu gak sukses dalam sekali coba, jadinya stuck di antrian tertentu dan jalannya sequential, bukan paralel. Belum lagi servernya mati. Gak masuk akal aja musti nunggu 4 jam buat proses yang 10-15 menit saja. Menurut saya juga hari itu mungkin over-capacity karena ada limpahan pemohon dari tanggal 2 Januari yang kudu beralih ke tanggal 3 karena kantornya tutup. Meski proses di awal, seperti pendaftaran dan pembayaran sudah ciamik, proses fisik masih buang-buang waktu. Mungkin kalau di Warung Buncit bisa lebih cepat ya, karena seingat saya dulu tuh setiap meja wawancara ada kamera untuk ambil foto. Jadi beberapa pemohon bisa diproses secara paralel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s