America

Seattle – Musim Gugur 2017 – Hari 1&2

IMG_0080

Nostalgia dulu kali ye, sebagai pengantar. Sekitar 10 tahun-an yang lalu (kali deh ye, gue juga lupa sebenernya), ada seorang agen yang diutus kantor ayah untuk menemani pergi ke biro pemerintahan Korea Selatan. Agen ini kurang lebih ditugaskan sebagai perantara orang asing yang tinggal di Korsel dengan orang lokal; khususnya dalam hal administrasi negara dan hal duniawi lain seperti tv kabel rusak, pipa bocor, atau mesin cuci enggak mau berputar. Panggil agen ini Erik.

Erik sesungguhnya adalah chatterbox berwujud manusia; cerita terooos sepanjang jalan bahkan sambil ngebut-nyalip-ngebut masih sanggup ngomong panjang lebar. Sembari berusaha menstabilkan mobil mininya, dia cerita rencananya untuk resign dan pindah ke Seattle. Katanya udara di sana selalu enak dan stabil, di musim panas pun.

Ah masa?

Setelah kroscek dengan kenyataan, kayaknya dia lebay atau persepsi “udara enak” menurutnya adalah aku-gapapa-meski-sepatuku-rusak-karena-basah-mulu. Area Pacific Northwest (termasuk Seattle, Portland, dan Vancouver) terkenal dengan curah hujan yang tinggi dan udara yang gloomy khususnya di musim gugur dan dingin. Sama dengan liburan gue ke Seattle akhir Oktober kemarin. Hujannya awet selama dua hari, untunglah hari-hari setelahnya selalu cerah.

Sesungguhnya, gue udah lama rencana liburan ke Seattle, ada kali dari 3 bulan sebelumnya. Ini juga masuk dalam daftar liburan ambisius yang ingin gue penuhi. Awalnya rencana pergi sendiri, terus ganti berdua sama temen, terus batal total, dan akhirnya kejadian pergi sama orang tua. Jujur aja nih beb, gue awalnya sungkan pergi sama orang tua karena takut bikin kecewa beliau dan lagi gue belum tahu daerahnya; berasa gak qualified sebagai guide. Padahal sih ya ortu gak ngarep gue memandu juga. Tapi eh tetapi gue malah bersyukur yak; liburannya lebih kick gitu lho. Duh sampai berkaca-kaca mengingat momen itu. Ah mellow. Kita langsung aja dah ya ke inti cerita.

Penerbangan gue dari Austin terpaksa dipecah jadi dua (padahal ada direct flight), supaya waktu landingnya deket-deket sama ortu. Gue transit di Denver selama +- 3 jam, baru lanjut ke Seattle. Tapi emang apes, flight dari Denver delay karena pesawatnya telat dateng. Paling bisa dah emang United. Sia-sia gue abisin 3 jam browsing jadwal pesawat.

 

DSC06014

Transit di bandara Denver

Sesampainya di Seattle, gue buru-buru ke area klaim bagasi karena ortu udah keluar dari customs sekitar sejam yang lalu. Nyokap sampai sempet meninggalkan ‘jejak’ di SeaTac saking lamanya. Setelah melalui momen reuni yang mengharu-biru, yang diikuti dengan opini ortu mengenai tas punggung gue yang selalu berat dan bisa bikin gue bongkok, kita tancap ke hotel. Lokasi hotel deket banget sama salah satu stasiun kereta Link dari airport. Dibanding naik taxi atau moda transportasi roda empat lainnya, kami memilih naik kereta gojes-gojes ke downtown Seattle. Harga tiketnya $3 untuk satu orang sekali jalan, total $9. What a catch. Kekurangan cuma satu, harus waspada pas kereta belok, takutnya koper gelinding dan mengancam menimpa penumpang lain. Perjalanan kami tempuh sekitar 40-an menit; relatif lebih lama dibanding naik highway, tapi terbayar dengan pemandangan Seattle yang exquisite. Jangan bilang kalau naik taksi juga bagus pemandangannya. Stop bikin aku insekyur.

DSC06015

Pemandangan dari kereta menuju hotel

Sesampainya di hotel, kami rebah-rebah manja dulu, baru pergi keluar ngetes ombak sekalian cari makan. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pike Place Market. Adalah ambisi yang krusial (buat gue) untuk pesan hotel yang in walking distance dengan pasar ini. Karena sesungguhnya pasar lyfe is my jam.

Hari pertama masih kagok dan bingung apa yang harus dilakukan, alhasil cuma lihat-lihat toko tanpa beli apa pun dan menutup hari dengan makan malam di restoran Thai.

DSC06067 DSC06041

Besoknya, kami beli sarapan roti di Pike Place, keliling sekitaran lihat orang lemparan ikan di pasar dan makan siang di Pike Place Chowder. Chowdernya enak, cuma antriannya mungkin mengintimidasi sebagian orang. Restorannya buka jam 11.00, tapi antriannya udah nyaris mengular di jam 10.30. Untungnya cepet sih antriannya diproses, cuma tempat duduk agak terbatas gitu ya.

 

DSC06036

Hombow dewa dari Mee Sum Pastry

 

DSC06052

Puas sehabis lempar ikan

 

 

DSC06066

Kenyang sudah, mari ngacir ke Space Needle. Sejujurnya sih beb (lagi), aku gak rekomen Space Needle, kecuali kamu ngidam banget. Biasa aja, terus mahal sis. Sebenernya jadi mahal karena biasa aja. Kalau kurang paham nih gue tegaskan ya: mahal.

Satu orang dewasa kena $22, pas naik ke atas ternyata gak gitu tinggi si tower ini, jadi pemandangannya dapat nilai B-. Gue bilang mending Sears Tower di Chicago, itu pun termasuk biasa karena di atas ‘gitu aja’, palagi kalo rame… ih drop shay ngantrinya. Berdasarkan seorang supir Uber yang kami tumpangi, ada satu observation deck yang lebih tinggi, yaitu Columbia Building(?). Dia bilang lebih bagus view-nya dan lebih sepi. Dia sendiri bingung kenapa orang masih mau pergi ke Space Needle, bukannya ke yang satu lagi. Udah kadung cyin.

Sedikit foto dari dek observasi Space Needle:

DSC06082

DSC06087

Yang lebih-lebih adalah toko suvenirnya; mahal. Yassalam beb. Gue beli satu pin enamel Space Needle yang konon kabarnya exclusive di toko suvenir itu aja. Yha mau gimana lagi… Bagus sih…

Setelahnya kami keliling sedikit kompleks tersebut. Ada museum lain juga, seperti Chihuly Garden and Glass, Museum of Pop Culture, etc. Gue tadinya ambisius buat ke Chihuly, tapi setelah merasakan Space Needle, gue jadi males, apalagi gak murah tiket masuknya. Kalau gak kick, rasanya mau emosi gitu lho… Karena udah gak ada lagi yang mau dilihat, kita pulang ke hotel naik Alweg Monorail yang stopnya cuma dua: Space Needle dan Westlake Center. Malamnya… makan Pho kalo gak salah.

DSC06098

Meski seharian hujan dan mendung terus, Seattle so far menyenangkan. Kheuseusnya di departemen makanan. Hujan juga gak bikin senewen takut sepatu lusuh karena gue pakai waterproof boots segede gedebog pisang yang mayan makan tempat di koper. Berkatnya, aku gak khawatir lagi menerjang genangan air seharian! Bahkan hingga malam! Hhh kalo aja gak makan tempat di koper (ngeluh terus).

Bersambung di sini ya pirsawan. Nanti lanjut lagi hari ke-3 dan ke-4. Hari ke-5nya seh udah pulang ke Austin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s