America

Filosofi Air Soda

Tidak bermaksud untuk menyaingi dynamic duo Chicco Jerikho dan Rio Dewanto dalam hal per-soda-an, tapi sungguh adanya filosofi di dalam bulir-bulir air soda. Air soda alias sparkling water adalah minuman yang gue ogah minum tanpa embel-embel ‘gembira’. Khususnya setelah mamakku berkali-kali bilang kalo air soda itu gak enak. Hmm masa sih? Kan cuma air + soda, bakalan sesalah apa sih? Dasar anak pongah.

Pertama kali gue coba air soda adalah di atas pesawat. Entah kenapa dengan para pramugari yang gue mintain air soda, tiap gue bilang ‘I want sparkling water‘, mereka selalu membenarkan dengan bilang ‘soda water‘ alias air soda. Oke oke sis.

Pas pertama kali menenggak, rasanya… engga enak.. Gimana ya jelasinnya… Karena engga ada rasa, karbonasinya ngagetin dan nyaris pahit di belakang lidah. Pantes nyokap gue wanti-wanti, ini toh maksud beliau. Kids, dengarkan dan percaya ibumu.

Karena ekspektasi gue engga sesuai dengan kenyataan, gue bingung gimana gue mau ngabisin minuman ini. Mau dibuang, dibuang kemana juga… Aku gak tega menyia-nyiakan dia. Langsung tenggak bottoms up biar sakitnya sekalian (ciee).

Setelah itu gue engga pernah lagi minum air soda. Imma stick dengan air putih atau jus jeruk.

Sampai suatu hari kantor gue beli mesin air soda. Kayaknya nyaris semua orang super excited dengan mesin ini kecuali gue dan beberapa orang awam lainnya. Karena kayaknya banyak yang suka, pasti ada yang salah dengan cara pikir gue; mungkin gue terlalu cepat menyimpulkan untuk gak suka. Mungkin bukan engga suka, tapi engga terbiasa. Jadi tekad gue bulat; gue akan memanfaatkan mesin air soda di kantor dengan sebaik-baiknya; gue akan latihan minum air soda (yaelah pls).

Awalnya gue masih suka-suka ngga (boong ding, gak suka aja), bahkan trial dengan gelas isi 1/4 juga gak membantu. Sampai suatu hari, pas lagi gosip di dapur dengan temen kerja, salah seorang beli air soda dari vending machine dan nawarin ada yang mau sharing engga? Berhubung gue lagi latihan (supaya suka air soda), gue sukarela (elah). Dia kasih gelas isi 1/2. Wadidaw pressure langsung meningkat…

Gue minumnya pelan-pelan dan abislah gelas isi 1/2; malah pingin nambah (alias beli). Tapi buat apa ya, kan kantor udah ada mesinnya, gratis pula.

Besoknya gue coba air soda dari kantor, ternyata emang enakan yang dari vending machine sih. Fizz dari air soda vending machine lebih kecil-kecil dan halus, sementara yang dari kantor agak kasar dan besar-besar. Potato patata, sama ajalah beb. Ibarat cinta karena terbiasa, gue udah di tahap suka dengan air soda. Hari-hari setelah itu, gue ambil air soda karena emang pengin… Atau karena kebiasaan pas zaman latihan aja? Wakakaka. Hmmmmmm….

Sekarang tiap naik pesawat, gue selalu minta air soda. Dan masih juga keseleo bilang ‘sparkling water’ dan dikoreksi passive-aggressively oleh pramugarinya dengan ‘soda water‘.

Dengan pengalaman belajar menyukai air soda, gue sadar betapa engga pentingnya usaha gue biar suka sama minuman basic ini. Cuma karena penasaran gimana orang lain bisa suka sama air soda. Apakah mereka punya cerita yang sama dengan gue?

Sis (dan bro), dari pelajaran (lebay) menyukai air soda ini, seandainya saja mudah juga untuk dipraktikkan dalam hubungan sosial. Kenyataannya tidak, karena air soda tidak sesulit manusia untuk dimengerti. Eh kok setengah curhat wakaka. Sudah dulu deh shay. Moral ceritanya dipikir-pikir sendiri ya. Bhai.

Advertisements

Categories: America, Life Digest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s